Pages

Sabtu, 01 Maret 2014

Segenggam Pasir Untuk Malaikatku


Saat semua orang sibuk menikmati lautnya, seorang anak perempuan berusia lima tahun menangis meraung mencari ibunya. Anak lima tahun itu tak henti menangis. Berusaha berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama Ibunya.
“Ma… Mama…” Teriaknya dengan air mata.
Dia merasa lelah menangis dan berjalan tanpa arah. Semua terasa asing tanpa genggaman jemari Ibunya. Tak sengaja dia melihat seseorang yang lebih tua darinya dengan nikmat melahap es krim milik orang tersebut.
Anak laki-laki tujuh tahun yang merasa risih dipelototi oleh seorang anak yang menurutnya lemah itu langsung menatap sinis dan mengabaikannya. Tapi anak perempuan yang merasa tenggorokkannya semakin panas itu hanya diam tanpa mengalihkan pandangannya dari es krim coklat di genggaman anak laki-laki itu.
“Apasih liat-liat?” Anak laki-laki itu semakin risih.
“Es krim.” Jawab anak perempuan itu dengan polos.
“Kamu mau ini?” Tanya anak laki-laki itu sambil menyodorkan es krimnya.
Anak perempuan itu hanya mengangguk dengan sedikit sesenggukan yang tersisa.
Anak laki-laki itu melihat saku di celananya. Ah, masih ada selembar lima ribuan.
“Ayo ikut aku!” Anak laki-laki itu berdiri dan menggandeng anak perempuan yang tingginya tidak lebih dari pundaknya itu.
“Kemana?” Anak perempuan itu sedikit takut.
“Kita beli es krim disana. Nanti kamu pilih sendiri deh mau rasa apa. Oke?” Anak laki-laki itu rtersenyum.
Anak perempuan itu mengangguk setuju setelah melirik kedai es krim yang tak jauh dari tempat mereka. Mereka akhirnya berjalan bergandengan sampai di kedai es krim.
“Tapi uang aku tinggal lima ribu. Cuma bisa beli satu aja. Ngga papa ya?” Anak laki-laki itu menampakkan wajah bersalah.
“Tapi yang stroberi ya?” Kata anak perempuan itu menyebutkan es krim yang sedaritadi mengiang di kepalanya.
“Oke!”
Anak laki-laki itu berjinjit meminta es krim stroberi pada pelayan. Pelayan itu sedikit tertawa saat melihat sepasang anak kecil yang menunggu makanan favoritnya.
“Ini es krimnya, Dik. Terimakasih sudah membeli di kedai kami.” Kata pelayan itu ramah.
Setelah melepas selembar uang lima ribuan miliknya, anak laki-laki tadi langsung mengajak anak perempuan itu menuju pinggir pantai untuk menikmati es krim mereka.
“Enak kan?” Anak laki-laki itu berkata dengan mulut berlumuran es krim.
“Iya. Terimakasih ya, Kak.”
“O iya, nama kamu siapa? Kita daritadi belum kenalan.” Anak laki-laki itu menjulurkan tangganya ke hadapan anak perempuan itu.
“Aira.” Aira menyambut tangan malaikat es krimnya itu.
“Aku Noy. Kamu kok sendirian?” Noy ingat saat bertemu dengan Aira, Aira sendirian saat itu.
“Mamaku hilang.” Jawab Aira polos.
“Hah?! Hilang?! Kok bisa hilang?” Noy terkejut.
“Ngga tau. Tadi aku mau beli es krim juga, tapi pas mau minta ke mama, mama udah hilang.” Aira teringat Mamanya lagi. Dia diam dan memanyunkan bibirnya.
Melihat teman kecilnya ingin menangis, Noy langsung menghiburnya.
“Loh, Aira jangan nangis! Nanti kalo nangis es krimnya meleleh loh. Es krimnya nanti ikutan nangis!” Jayus Noy.
“Terus mama sama papanya Kak Noy kemana?” Aira balik bertanya.
“Oiya, mama sama papa aku kemana ya?” Noy berdiri dan melihat sekitarnya. Nihil. Dia tidak menemukan sosok ayah dan ibunya.
“Aduh, Ra, mama sama papa aku juga hilang!” Noy sedikit panik.
“Loh, terus gimana dong? Nan.. nanti pu.. pulangnya gimana?” Aira benar-benar menangis sekarang.
“Udah-udah ngga usah nangis. Sekarang habisin es krimnya dulu baru kita cari mama papa kita, ya?” Noy menenangkan Aira.
Aira tersenyum dan kembali memakan es krimnya.
Setelah es krim mereka sudah berpindah ke perut masing-masing, dan memastikan mulut mereka tidak cemong-cemong dengan sisa es krim, mereka berjalan menyusuri pantai Kuta itu berdua. Bergandengan.
Semua orang benar-benar terasa asing disana. Mereka akhirnya menyerah. Merasa begitu lelah mencari orang tua mereka. Tak terasa sinar matahari semakin oranye. Mereka duduk di bangku yang ada di tengah pantai sambil menatap matahari yang berwarna sama dengan baju Aira. Berharap ada seseorang yang mengenal mereka dan bisa membawa mereka kepada orang tuanya.
“Kak, kalau sampai malam kita ngga ketemu mama gimana?” Aira kembali khawatir.
“Mama sama papa pasti nyariin kita kok. Kamu kalo capek tidur aja, biar aku yang jaga kamu disini.” Kata Noy sambil merangkul Aira.
“Nanti Kak Noy sendirian dong? Aku mau nemenin Kak Noy aja!” Jawab Aira polos.
“Engga kok, kan banyak orang disini. Hehehe.”
Aira tetap berusaha membuka matanya. Tapi tak bertahan lima belas menit dia sudah terlelap di bahu Noy. Noy hanya tertawa dan membenarkan posisi tidur Aira. Semakin larut tidur Aira, semakin gelap pula langit yang menutupi pantai Kuta saat itu.
“Itu kan.. MAMA!!!” Noy berteriak memanggil seorang wanita yang berjalan dengan suaminya dengan mata sembab.
Wanita yang merasa mengenali suara yang memanggilnya itu langsung lega saat melihat buah hatinya telah ditemukan.
“NOY!!” Ibu itu langsung menghampiri Noy dan memeluknya.
“Ya Tuhan sayang, kamu ngga papa? Kamu ngga di apa-apain orang jahat kan? Kamu ngga ada yang luka kan? Ya ampun Noy, mama khawatir nyariin kamu! Kamu itu ijinnya beli es krim malah ngilang.” Ibu itu langsung mengeluarkan unek-uneknya yang tertahan selama beberapa jam tadi.
“Ma, aku ngga papa. Aku baik-baik aja. Maaf ma, tadi aku beliin Aira es krim. Kasihan dia ma, mamanya juga hilang!” Jawab Noy sambil menenok Aira di belakangnya.
“Aira? Aira siapa?” Ibunya bingung.
Ayahnya yang sudah mengetahui posisi Aira langsung mendekatinya dan membelai wajah anak kecil itu.
“Ini Aira?” Tanya Ayah Noy.
Noy hanya mengangguk lalu memandang mamanya lagi.
“Kamu ketemu Aira dimana?” Tanya ayahnya.
“Di dekat kedai es krim tadi. Dia tiba-tiba deketin aku sambil nangis. Karena aku kasihan, ya udah aku beliin dia es krim.” Jawab Noy polos.
“Kasihan, Ma. Gimana kalo Aira sama kita aja dulu, besok kita cari orang tuanya Aira?” Usul ayah Noy pada istrinya.
“Iya, Pa. Kita bawa Aira dulu aja. Besok kita bantu dia cari orang tuanya.”
Keluarga kecil itu langsung meninggalkan tempat tadi dan membawa Aira yang masih terlelap ke penginapan mereka. Aira yang merasa tubuhnya berpindah posisi langsung tersadar dari bunga tidurnya.
“Loh, Aira dimana?” Tanya Aira polos saat menyadari dirinya berada di tempat yang berbeda sebelum dia terlelap tadi.
“Airaa.. kamu ada di rumah tante aku sekaraang!!” Pekik Noy begitu tahu bahwa Aira sudah bangun.
Aira masih setengah sadar. Tapi entah mengapa dalam hati Aira dia merasa tenang dan aman disini. Bersama keluarga teman barunya. Tidak seperti anak lima tahun pada umumnya yang selalu menjerit ketika berpisah jauh dengan ibunya.
Keesokan paginya Noy, Aira, dan sepupu Noy yang bernama Karen sudah basah setengah badan karena ombak kecil menggelayuti baju mereka. Aira merasa mendapat teman baru yang sangat asyik untuk membuat istana pasir yang sejak dulu ia inginkan.
Saat asyik bermain, Aira menemukan sebuah botol kosong berbentuk silindris di dalam pasir yang sedang ia gali.
“Kak Noy, Kak Karen, lihaat! Aku dapat botol!!!” Aira begitu semangat dan senang mendapat barang yang belum pernah ia temui.
Botol itu kosong. Entah botol apa.
“Wah.. Asyik dong, Ra? Bisa jadi kenang-kenangan dari Bali!” Kata Karen sambil menghampiri Aira.
Aira diam sejenak. Kenang-kenangan? Lalu ia berfikir suatu hal yang kreatif.
“Ra, ayo main air!!” Pekik Noy dari tepi pantai.
“Sebentar. Kakak duluan aja!” Jawab Aira.
Aira membuka tutup botol itu. Lalu sedikit demi sedikit botol kosong itu ia isi dengan pasir kering dibawahnya. Kini, setengah botol itu telah terisi pasir pantai yang sangat menarik untuk anak berusia lima tahun. Aira menambahkan kecantikan di dalamnya. Ia memasukkan sebuah cangkang kerang kecil.
“Nah, sekarang udah jadi!” Batin Aira.
Aira langsung berdiri dan berlari menuju kawan-kawannya yang sudah mendahuluinya bermain pasir.
Saat berlari dengan semangat, ia tak sengaja menabrak seorang laki-laki dewasa yang tingginya berlipat-lipat darinya. Aira begitu terkejut saat laki-laki itu menoleh ke arahnya.
“PAPA!!!” Teriak Aira begitu tau itu Papanya.
“Ya, Tuhan. AIRA!!” Papa Aira tak kalah kaget saat tahu itu anaknya yang semalaman hilang.
Papa Aira langsung menggendongnya dan memeluknya.
“Aira, kamu kemana aja? Kamu ngga kenapa kenapa kan sayang? Kamu ngga sama orang jahat kan? Aduh, Papa sama Mama khawatir banget, Ra! Takut kamu diculik atau apa.” Kata Papa Aira sambil tak lepas memeluk anak sematawayangnya itu.
“Engga kok, Pa. Aira baik, kok. Kan ada Om Alex sama Tante Dian.” Jawab Aira membuat kening papanya mengkerut.
“Mereka siapa, Ra? Mereka ngga jahatin kamu kan?” Tanya papa Aira.
“Engga. Mereka baik sama Aira. Aira dibeliin baju baru dan diajak main kesini sama mereka. Tadi malam Aira juga bobok dirumah mereka, Pa!” Jawab Aira semangat.
“Sekarang, mereka dimana? Papa mau berterimakasih sama mereka.”
Aira pun mengantar Papanya ke tempat Orang Tua Noy bersantai.
“Tante, Om!” Panggil Aira kepada mereka saat sudah dekat.
“Loh, Aira. Kok kesini? Noy sama Karen mana?” Tanya Tante Dian, Mama Noy, yang belum menyadari keberadaan papa Aira.
“Mereka masih main. Tante, ini Papa Aira!” Aira meraih tangan Papanya.
“Oh.. Papa Aira, ya?” Orang Tua Noy langsung berdiri menyambut uluran tangan Papa Aira sebagai tanda perkenalan.
“Saya sebagai orang tua Aira mengucapkan banyak terimakasih, sudah mau merawat Aira semalam. Saya sama mamanya Aira panik cari dia kemana-mana. Pikiran kami sudah ngga karuan kemarin. Sekali lagi terimakasih ya Pak, Bu.” Ucap Papa Aira begitu terimakasihnya.
“Iya, sama-sama, Pak. Kita semalam ketemu Aira sedang main sama anak kita. Kita kasihan sama Aira yang katanya kepisah sama orang tuanya. Jadi kita bawa dulu Aira dan niatnya hari ini mau bantu Aira cari orang tuanya. Eh ini malah udah ketemu. Syukur kalau begitu.” Balas Ibu Noy.
Tak lama kemudian, Noy dan Karen menyusul mereka. Mereka bingung, menunggu Aira untuk bermain, tapi Aira justru tidak muncul. Malah ternyata Aira sedang bersama orang tuanya, dan juga laki-laki asing yang belum pernah ia temui.
“Noy, Karen. Kok kalian balik? Udah selesai mainnya sayang?” Tanya Ayah Noy.
“Engga, kita nunggu Aira, tapi Airanya ngga ikut main.” Jawab Karen polos.
“Oiya, Noy, Karen, kasih salam dulu sama Papanya Aira.” Pinta Ibu Noy kepada mereka.
Noy dan Karen bersalaman kepada Papa Aira layaknya saling menghormati. Tapi raut wajah Noy sedikit kecewa saat tahu Aira sudah menemukan keluarganya.
“Jadi Aira sebentar lagi pulang dong?” Tanya Karen.
“Iya, nanti aku mau ketemu mama! Aku udah kangen banget sama mama!” Jawab Aira bersemangat.
Noy langsung berlari meninggalkan kerumunan itu menuju istana pasir mungil yang tadi ia buat bersama Aira dan Karen.
“Loh, Noy!” Panggil ibu Noy sedikit khawatir.
“Udah, Ma. Biarin aja dulu.” Ayah Noy mencegah Istrinya untuk mengejar Noy.
“Ayah, Aira mau kesana dulu. Ayo, Kak Karen!” Ajak Aira.
“Ngga ah, aku capek. Nanti dulu, ya. Nanti aku nyusul!” Jawab Karen sambil mengambil minum di tas-nya.
“Ra, Papa telepon mama kamu dulu ya, biar ngga khawatir.”
Aira hanya mengangguk dan berlari menyusul Noy.
“Kak Noy kok lari?” Aira duduk di sebelah Noy.
Noy menoleh ke arah kawan kecilnya itu dan menatapnya.
“Nanti kalau kamu pulang kita ngga bisa main lagi dong? Rumah kita kan jauh. Aku di Bogor kamu di Jogja!” Tanya Noy dengan cemberut.
“Kan kita bisa telepon pake HP papa atau mama aku!” Jawab Aira tanpa melepas pandangannya kepada Noy.
“Janji?” Tanya Noy.
“Janji!” Jawab Aira tegas.
Noy pun memeluk kawan kecilnya itu sambil berjanji akan terus menghubunginya.
“Oiya, aku punya sesuatu buat Kak Noy!” Aira pun menyodorkan botol berisi pasir yang tadi dibuatnya.
“Apa ini, Ra?” Tanya Noy sambil mengambil botol di tangan Aira.
“Itu hadiah buat Kak Noy karena udah beliin aku es krim dan buatin aku istana pasir!” Jawab Aira.
Saat Aira melirik botol itu lagi, kerang kecil yang ada di dalamnya sudah menghilang. Mungkin tertimbun pasir di dalamnya karena terguncang saat bertemu papanya tadi.
“Terimakasih, Aira. Tapi aku ngga punya apa-apa untuk kenanganmu.” Noy cemberut lagi.
“Ngga usah! Kakak udah kasih banyak kejutan buat aku. Pokoknya kakak ngga boleh buang botol ini dan numpahin pasir di dalamnya sampai nanti kita ketemu lagi. Oke?” Aira mengacungkan dua jempolnya.
“Oke! Aku janji bakalan simpan botol ini sampai nanti kita ketemu lagi.” Jawab Noy sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.
Mereka pun berpelukan lagi. Tapi kali ini berpelukannya bertiga karena Karen sudah datang dan ikut berpelukan.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu sampai siang untuk bermain bertiga layaknya sahabat yang sudah bertemu lama sekali. Menikmati sisa waktu bermain mereka karena setelah ini mereka harus pulang ke rumah masing-masing.
Hingga akhirnya sore datang. Aira berpamitan kepada Orang tua Noy dan Orang tua Karen. Aira harus pulang karena waktu berliburnya sudah habis. Tetes air mata mengiringi pelukan antara Aira, Noy, dan Karen sore itu.
Tunggu sampai aku datang lagi ya, Kak Noy. Dan kita akan menumpahkan pasir itu bersama-sama!

Sabtu, 22 Februari 2014

Untuk Kalian, Sahabatku

 
"Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha mempertahankannya" Refrain

Semua tidak akan sama selamanya. Pasti akan berubah seiring waktu berjalan. Entah itu sikap kita, nasib, keadaan hidup, semuanya. Bahkan persahabatan tak selamanya seperti sungai yang tenang. Pasti akan terus mengalir. Air itu juga akan menimbulkan gelombang. Dan gelombang itu bisa datang karena banyak hal, dan kapanpun waktunya. Tanpa peduli kondisi kita.
Tapi semua itu tergantung kita yang menyikapinya. Mau seperti ikan yang bergerak dan mengikuti gelombangnya, atau menjadi batu yang kokoh, tapi hanya bisa diam menerpa gelombang itu, tanpa tahu kebahagiaan di depannya? You'll never know till you have tried.
Kalian berdua, adalah orang yang sampai detik ini selalu menjadi cerita yang aku ceritakan secara semangat kepada banyak orang.
Aku memang lebih sering bersama mereka. Tapi perasaan dan pikiranku lebih sering bersama kalian. Gomal? BUKAN! ini FAKTA! Aku merasa senyumku kurang berwarna tanpa kalian. Kalian berdua.
Senyumku tidak bisa terkoneksi dengan pikiran dan perasaanku yang selalu bilang, "Gimana ya kalo kalian juga disini? Pasti makin seru!" Sumpah mati. Kalimat ini selalu ada.

Bahagiaku, adalah hal yang selama ini aku tuju. Tapi jika bahagiaku, tidak terwujud tanpa ada 'Sahabat', itu bukan bahagia. Itu bagian dari ke-egoisanku. Mungkin Tuhan belum memberikanku kesempatan untuk menyempurnakan persahabatan ini. Ya, aku sadar, aku manusia labil yang tidak sempurna dan masih membutuhkan topangan tangan. Tuhan belum mengijinkanku untuk meyakinkan kalian, tentang betapa berharganya kalian di barisan ceritaku.
Kalau kalian beranggapan bahwa persahabatan ini renggang, YA, kita memang sedang di posisi ini. Mungkin karena ke-egoisan kita masing-masing dan keadaankita sedang dekat dengan orang lain. Ini bukan salah mereka. Ini karena waktu yang memaksa kita untuk berjarak sejenak. Tapi aku canggung. Tidak betah dengan jarak yang seharusnya tidak ada ini.
Sabar, tunggu saja. Tunggu sampai Tuhan memberikan kita kesempatan untuk mempertahankan persahabatan ini.
Sampai waktu yang berkata, "Persahabatan Kita Sempurna!"
Entah nanti ada nama lain yang mengikutinya, atau tetap tiga. Aku, kamu, kamu. Kalian berdua. Kita Bertiga.
Yang pasti, aku mau namamu Tuhan tulis dengan ikhlas di barisan akhir ceritaku nanti. Saat kita berhasil melawan dunia. Berteriak pada mereka bahwa kita berhasil. 
Aku sayang kalian. Sahabat yang belum pernah ada sebelumnya dalam hidupku. Terimakasih...